Karna Surga Berada di Kaki Wanita.
Sejauh mata memandang berapa luka yang terukir dari orang yang ku sayangi ini.
Sejauh harapan dan cita-cita, bisakah ku dapatkan cinta yang murni?
Menjahi namun tetap terikat. berhenti sedalam mata mencari.
Ia datang hanya untuk menghancurkan benteng diri.
Badai kehidupan datang silih berganti bermetamarfosis menjadi hal yang indah nanti.
Namun rahasia semesta masih belum meninggalkan arti, ia digandrungi keraguan dan kesepian.
Sampai kapan rasa sayang dan rindu ini bertolak belakang?
Sampai kapan ku dapatkan cinta yang murni datangnya?
Arah ku gelap, tujuan dan impian ku dihancurkan telapak surga.
Bolehkah aku menyalahkannya? dengan kondisi ku saat ini?
Bolehkah aku meminta penghakiman pada dirinya?
Dapat kah aku menerima telapak surganya?
Oh semesta, kenapa takdir ini terasa berat di terima!
Raga batin ku tak kuat menerimanya. Luka yang teramat dalam ini tak bisa ku bendung sendiri.
Hanya menoreh melalui tulisan tak sanggup ku sampaikan
Akan kah telapak surga ini pantas ku dapatkan?
Disaat luka terlalu besar dan tak kunjung padam
Sesekali menggila dengan kedalamannya
Bolehkan aku menyerah dengan luka ini? jika tidak kau izinkan bisakah kau berikan sebuah raga yang dapat menguatkan diriku!
Disaat kondisi sudah membaik, aku tidak bisa berbohong jika tawaku tersimpul namun hati ku semakin terkikis.
Karna surga berada di telapak kakinya, bolekah ke munafikan diri ku menerimanya dengan suka rela?
Komentar
Posting Komentar